Anggota Komisi III DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Yogi Maulana, menyoroti sejumlah persoalan serius dalam tata kelola pembelian timah oleh PT Timah, mulai dari perbedaan kadar SN hingga keterlambatan pembayaran yang tidak sesuai dengan perjanjian.Jasa Advertorial Online
Menurut Yogi, pihaknya menerima aduan masyarakat terkait perbedaan kandungan SN (kadar timah) antara hasil pengujian di GBT dan hasil definitif di Mentok. Perbedaan tersebut dinilai merugikan dan menimbulkan tanda tanya di kalangan masyarakat, khususnya para mitra produksi.
“Kami menerima aduan dari masyarakat terkait kandungan SN. Ketika diuji di GBT hasilnya berbeda, dan saat hasil definitif di Mentok juga berbeda. Ini menjadi perhatian serius karena berkaitan langsung dengan nilai jual dan kepercayaan masyarakat,” kata Yogi.
Tak hanya soal kandungan SN, Yogi juga menyoroti sistem pembayaran PT Timah yang dinilai tidak sesuai dengan komitmen awal. Ia menyebut, berdasarkan hasil pertemuan DPRD dengan Direktur Utama dan Direktur Keuangan PT Timah, pembayaran dijanjikan dilakukan dalam waktu empat hari.Promosi Wisata Bangka
Namun, fakta di lapangan justru berbeda. Pembayaran disebut molor hingga lebih dari satu bulan.
Tak hanya soal kandungan SN, Yogi juga menyoroti sistem pembayaran PT Timah yang dinilai tidak sesuai dengan komitmen awal. Ia menyebut, berdasarkan hasil pertemuan DPRD dengan Direktur Utama dan Direktur Keuangan PT Timah, pembayaran dijanjikan dilakukan dalam waktu empat hari.
Namun, fakta di lapangan justru berbeda. Pembayaran disebut molor hingga lebih dari satu bulan.
“Kemarin saat pertemuan dengan Dirut dan Direktur Keuangan PT Timah, pembayaran dijanjikan empat hari. Tapi kenyataannya bisa sampai satu bulan lebih baru dibayarkan. Ini jelas tidak sesuai perjanjian dan sangat merugikan masyarakat,” tegasnya.
Yogi meminta PT Timah segera melakukan pembenahan internal, khususnya terkait transparansi kadar SN, sistem harga, dan mekanisme pembayaran. Ia menilai, perbaikan ini penting untuk menjaga kepercayaan mitra produksi.Pelestarian Budaya Lokal
Ia juga menegaskan, keberadaan Satgas TRI CAKTI selama ini telah banyak membantu PT Timah dalam meningkatkan produksi. Bahkan, produksi pada Januari disebut mencapai sekitar 2.800 ton.
“Satgas sudah membantu PT Timah dalam produksi. Seharusnya PT Timah berterima kasih dan berbenah, mulai dari perbaikan harga, kejelasan SN, hingga sistem pembayaran. Jangan sampai masyarakat dirugikan,” ujarnya.





